Sarana Menggapai Hidup Bahagia

Syekh Abdurrahman bin Nashir Al Sa’dy rahimahulloh, salah seorang ulama besar yang banyak bergerak dibidang dakwah dan penulisan buku, baik dalam masalah akidah, tafsir maupun ilmu-ilmu syariat yang lain.

Pada makalah kali ini akan kami turunkan nukilan dari salah satu tulisan beliau yang sangat bagus dengan harapan semoga bisa menjadi bahan renungan dan acuan kita semua untuk menggapai kebahagiaan hidup yang selalu kita idam-idamkan. Berikut ini cuplikan dari tulisan beliau:

Sesungguhnya ketenangan hati dan kesenangannya serta hilangnya rasa gundah dan resah merupakan keinginan setiap orang. Karena dengan demikian akan tercapai kehidupan yang tenteram, bahagia dan sejahtera. Untuk mencapai hal-hal tersebut diperlukan sarana-sarana yang bersifat religius, alami dan logika yang kesemuanya tidak akan dapat dicapai kecuali oleh seorang mu’min. Adapun selain mereka, walaupun dapat diraih salah satunya itupun setelah para pemikir mereka menguras pikirannya untuk itu akan tetapi masih banyak hal lain yang terlewatkan yang lebih bermanfaat dan utama baik di dunia ini atau kehidupan berikutnya. Disini akan kami sebutkan beberapa sarana penting yang dengan izin Alloh seorang muslim akan bisa menggapai kebahagiaan hidupnya baik di dunia maupun diakhirat.

1. Iman dan amal Saleh

2. Berbuat baik kepada sesama makhluk

3. Sibuk dengan pekerjaan atau ilmu yang bermanfaat

4. Memusatkan pikiran untuk melakukan pekerjaan hari ini dan tidak dihantui oleh pikiran-pikiran masa depan atau kesedihan masa lalu

5. Memperbanyak zikir kepada Alloh ta’ala

6. Sering menyebut nikmat-nikmat Alloh, baik yang nampak maupun tersembunyi

7. Melihat orang-orang yang berada di bawahnya dan tidak melihat orang-orang yang ada di atasnya

8. Melupakan berbagai penderitaan masa lalu yang tidak dapat ditolak

9. Berdoa dengan doa yang dipanjatkan Rasululloh

10. Memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya kemudian menguatkan diri untuk siap menerimanya

11. Tidak panik dan larut dalam bayangan-bayangan buruk

12. Bergantung kepada Alloh dan bertawakkal kepada-Nya

13. Pandai dalam bergaul

14. Tidak tenggelam dalam kesedihan mendalam

15. Membandingkan kenikmatan yang diterima dengan kesulitan yang diderita

16. Perilaku buruk orang lain terhadap anda sesungguhnya merugikan dirinya sendiri

17. Berpikir positif

18. Tidak mengharapkan balasan dan penghormatan kecuali dari Alloh

19. Menjadikan semua hal bermanfaat berada di depan mata anda dan berusaha untuk mewujudkannya

20. Mengatasi sebuah masalah saat itu juga untuk kemudian berkonsentrasi terhadap masa depan

21. Mendahulukan perbuatan yang paling penting dan paling disukai

Tips Introspeksi Diri

memperhatikan-amal-copy1Berbicara tentang masa depan gemilang artinya berbicara tentang bagaimana melewati hari hari dengan pengambilan keputusan yang tepat. Orang-orang sukses sangat mengerti tentang ini. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita yakin dan sadar dengan keputusan yang kita ambil setiap hari?

Introspeksi diri, inilah kunci agar kita peka dengan keputusan yang kita ambil untuk kemudian semakin terampil kedepannya. Dengan introspeksi diri-lah akan meningkat kualitas keputusan yang dibuat setiap harinya, karena bertambah kepekaan akan kesalahan keputusan masa lalu sehingga tidak lagi terulang.

Umar Bin Khattab Berkata : “hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah dirimu sebelum dirimu ditimbang”. Anjuran Umar tersebut mengandung kemaslahatan yang banyak dan dengan introspeksi diri kita bisa maraih kemaslahatan tersebut.

Lalu bagaimana kiat introspeksi diri yang efektif?

Caranya adalah dengan melalui beberapa tahapan yang teratur agar nampak jelas point-point pentingnya. Tahapannya adalah :

  1. Mulai dari introspeksi kewajiban. Yakni mengevaluasi hal-hal yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita seperti amanah ditempat kerja, ibadah sholat, tanggung jawab keluarga, dsb. Bila dinilai ada kekurangan segera diperbaiki
  2. Introspeksi pelanggaran. Jika ada larangan yang dilanggar seperti ditilang, berbuat dosa, menyakiti hati orang lain, dsb, maka segera menyesal dan berjanji tidak mengulangi, bertaubat, istighfar, dan menghapusnya dengan kebajikan-kebajikan.
  3. Introspeksi kelalaian. Yakni melihat berapa waktu luang yang tidak dimanfaatkan dengan baik, atau peluang-peluang yang sudah terlewatkan, agar kedepannya lebih cekatan lagi.
  4. Introspeksi niat. Yakni mencermati apa niat yang sering muncul dari setiap perbuatan yang dilakukan. Bila banyak niat jelek atau ingin dipuji-puji. Segera sadari, istighfar dan luruskan.

Demikianlah tahapan introspeksi agar introspeksi itu tidak boros waktu dan dapat memunculkan point-point kesimpulan yang jelas dan bermanfaat.

Mari, evaluasi tindakan kita sebelum kita dievaluasi oleh yang Maha Tinggi.

<memen.wordpress.com>