Manajemen Harapan

photograph3mmen-108

Saya punya adik yg duduk di bangku kelas tiga. 17 agustus lalu -sebagaimana anak lain- adik saya ikut lomba di kampung. Dan walhasil, beberapa hadiah bisa disabetnya spt tas, buku, dan alat tulis. Hehe..Adik saya mmang cekatan klo soal lomba. Suatu saat pas lomba akan berlangsung saya perhatikan adik saya ini tampak sumringah dgn mata berbinar2. bila sudah bgitu saya mengerti, pasti adik saya sedang bersemangat sekali. Dan memang, Hari-hari perlombaan adalah hari penuh semangat bagi adik saya.

Kalo dipikir-pikir, apa sebenarnya yang memicu adik saya shingga bersemangat sekali pada 17 agustusan tersebut? Jawabnya; “Harapan”, ya! harapan bisa memenangkan lomba. Harapan untuk mendapat hadiah. Benar! Harapan adalah pemicu semangatnya. Cukup dgn membayangkan kemenangan, pujian keluarga, dan hadiah yg akan diraihnya, adik saya bisa langsung antusias dan bersemangat.

Hem. Klo mau dibahas lbih jauh, mungkin ini pula alasan mengapa teman-teman saya -termasuk saya sendiri- mau bertahan dalam menempuh pendidikan panjang yg melelahkan smpai lulus spt skrg. Juga mengapa orang rela berdesak-desakan dalam sebuah antrian panjang. “harapan”, itulah kata kuncinya. Kita tetap bertahan mengurusi sesuatu karena ada yang kita harapkan didalamnya. Jika sudah putus harapan dari sesuatu ini, kita cenderung ingin putus hubungan darinya. Demikian juga hubungan kita dgn orang lain, dan apapun dalam hdup ini.

Lalu bagaimana jika harapan itu tidak menjadi kenyataan? Bagaimana jika kenikmatan diujung sebuah perjalanan tidak seindah yang diidamkan? Padahal itu sering terjadi dalam kehidupan, bahwa impian rupanya jauh dari kenyataan.

Inilah perlunya manajemen harapan. Yakni agar kita tidak mudah berputus asa atau menjadi lemah lantaran pikiran-pikiran semacam itu. agar kita tetap bersemangat dalam berusaha, dan tetap bersyukur dgn apa yg mampu kita capai nantinya. Coba bayangkan jika kita tidak pandai memanajemen harapan. Mungkin tidak satupun prestasi yang mampu dibuat. Karena belum seberapa kita melangkah, hati sudah ciut pada kemungkinan gagal. Belum seberapa ujiannya, jiwa sudah melemah karena pesimis akan berhasil. Lalu bagaimana mungkin kita menjadi orang besar kalo daya berharapnya kecil. Padahal semangat juang itu setara dengan kekuatan berharapnya.

Salah satu trik manajemen harapan yang umum dipake diperusahaan-perusahaan adalah adanya jenjang karir yang jelas. Dengan mengetahui adanya jenjang karir, karyawan akan lebih terdorong untuk bekerja sebaik-baiknya demi bisa dipromosikan untuk naik jabatan yang tentunya naik pula pendapatan.

Nah itu kalo diperusahaan. Bagaimana kalo yang didalam keseharian kita –yang notabene tidak ada jenjang karir- bagaimana trik agar kita tetap bersemangat dalam membiasakan suatu amalan baik? Jawabanya adalah membuat multi tujuan dalam setiap amalan baik yang ingin kita jadikan kebiasaan. Misal olahraga. Kalo kita ingin tetap semangat berolah raga, maka hal pertama yang perlu kita miliki adalah multi tujuan dari melakukan olah raga. Yakni kita olah raga bukan hanya untuk sehat. Tapi juga Harapan untuk mempunyai otot yg kuat. Harapan untuk bisa tetap fit pada saat bekerja. dan semacamnya. Begitupun dalam dunia lain misal perdagangan yang memang tidak ada jenjang karirnya. Pedagang perlu menetapkan multi tujuan. Berdagang untuk mendapat uang, berdagang untuk menafkahi keluarga, berdagang agar kaya dan bisa membantu orang lain. Berdagang untuk mengembangkan hobby. Dll.

Dengan membuat multi tujuan inilah kita membuat pekerjaan seakan-akan menjadi sesuatu yang amat menarik dan penting bagi kita.

Perlu diingat, dalam manajemen harapan dibutuhkan paling tidak dua jenis harapan, yakni harapan tersulit dan harapan termudah. Misal kita mengarang sebuah buku, harapan tersulitnya “kita ingin merubah ideologi dunia”. Dan harapan termudahnya ini sekedar hobby saja. Dengan adanya dua jenis harapan ini akan berkurang resiko frustasi. Sebab meski kita tidak mendapat harapan yang satu, namun harapan yang lain tetap kita dapatkan. Disisi lain, dengan adanya “harapan tersulit” maka kita terdorong untuk berbuat seoptimal mungkin. Lain halnya bila Cuma ada “harapan termudah”, maka kita cenderung berbuat ala kadarnya.

Dengan adanya multi tujuan niscaya semangat kita dalam beramal dan berusaha akan tetap stabil.

<> memen.wordpress.com <>

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s