Hati-hati Mengatur Keuangan

objmmen-133

Dulu sewaktu remaja tulen, saya merasakan kebebasan financial yg luar biasa. Eits! kebebasan financial tuh bukan brarti kaya raya tapi maksudnya kalo saya mau ngeluarin duit ga mikir bertele-tele spt; ini penting gak ya, itu manfaat ga kalo dibeli, ini kemahalan gak, Pokoknya duit yg ada ya udah dihabisin skrg juga gpp, toh besok ortu ngasih lagi. Begitulah merdekanya sistem keuangan saya, Jadi boro2 mikirin tabungan atau manajemen keuangan, untuk sehari aja kadang amburadul ngaturnya.

Tapi itu dulu, zaman si otong lagi jaya2nya. Sekarang mah mau gak mau harus berubah. Kalo gak berubah maka alam akan memaksa utk berubah. Kalo sudah dipaksa alam tp gak berubah juga maka kakaknya alam yg akan turun tangan; siapa kakaknya alam? Veti Vera. hehe

Nah! Tanda2 saya mulai brubah misalny mulai serius membatasi pengeluaran. Saking seriusnya pembatasan tsb jd lbh cocok disebut pelit. Hehe..

pernah demi membiayai keperluan kuliah saya makan dengan menu seadanya bebrapa kali. Itupun sempat kepikiran tuk puasa, tapi ga jadi karena takut niatnya ga bener. Tapi untungnya sesedih apapun menu makan takkala itu, saya msh punya banyak kawan, -yg menu makannya lebih menyedihkan- dan itu hiburan tersendiri melihat ada yang lebih menderita dibanding saya. (Hehe, ajaran gak bener). Pokoknya hari-hari sebagai mahasiswa adalah hari-hari yg sarat dengan huruf ‘T”.-Tahu, Tempe, Toge, Telor, Terong.

Sudahlah, itu masa lalu. Kisah lucu utk masa depan. Sekarang kita langsung bahas tentang “mengatur keuangan”.

Begini. Kalo dipikir2 sebenarnya apa hal penting dalam mengatur keuangan. Tentu jawabnya “perlu Adanya tujuan keuangan yg jelas”. Nah. Kalo sudah tau begitu maka tinggal disesuaikan saja dgn kondisi masing2. contohnya bagi yg masih single alias belum punya tanggungan keluarga, maka tujuan keuangannya adalah untuk biaya pernikahan. Sedangkan bagi yg sudah berkeluarga tentu untuk pendidikan anak2nya ato keperluan rumah tangga spt pakaian, pangan, dll. Beda lagi kalo yg usianya lebih dari separuh baya, maka tujuan keuangannya utk persiapan masa pensiun.

Tujuan keuangan seperti yang dijelaskan diatas mrupakan hal lumrah dan diketahui umum, jadi msalah sebenarnya bukan disitu.

Lalu dimana donk kakang memen yg keren dan baek hati.!?

Begini adek2:..Masalah sebenarnya adalah “peng-kategori-an tujuan”. Yakni penetapan tujuan itu sebagai jangka panjang atau jangka pendek dan Apakah tujuan itu statusnya “penting” atau “tidak penting”.

Penjelasan gamblangnya begini; taruhlah biaya pernikahan itu penting utk dipersiapkan oleh mreka yang masih single, tapi apakah itu yg terpenting? Gimana kalo kebutuhan utk punya kendaraan lebih mendesak daripada kebutuhan utk menikah? Atau misal bagi yang hampir pensiun menganggap masa pensiun penting dinikmati tapi beramal utk kematian lebih penting- jadi mana yg utama- menabung utk hari tua atau bersedekah?

Nah! Ibarat koran, maka kita perlu menggelar masalah ini lebih lebar agar semuanya tampak jelas. Sebenarnya kuncinya cuma dua. Adil, dan fleksibel. Adil artinya menempatkan tujuan2 tsb berdasar skala prioritas yg tepat. Urutannya adalah; 1).penting dan mendesak. 2).penting tapi tidak mendesak 3).tidak penting tapi mendesak 4).tidak penting dan tidak mendesak.

Setelah itu baru kita tulis dikertas.. isi dari tiap kategori itu, tapi cukup utk no.1 dan 2 saja. Sedangkan utk no.3 dan no.4 ykni tidak penting tapi mendesak dan tidak penting juga tidak mendesak dikosongkan saja. Alasannya karena kedua ketageori itu bikin mumet utk diisi, cukup biarkan naluri kita yg nanti menilai scra spontan –inilah maksudnya fleksibel.

Sebagai contoh pengisian; no.1 kategorinya penting dan mendesak; isinya misal uang kuliah yg hampir jatuh tempo, atau cicilan kendaraan, dsb. Lalu utk no.2 isinya biaya pernikahan, biaya sewa rumah kalo sudah menikah nanti, dsb.

Nah setelah tau isi kedua ktegori maka sebaiknya kategori no.2 kita pajang tulisannya di dinding kamar atau minimal ditulis di cover buku keuangan kita. Mengapa begitu: karena kategori no.2 kemungkinan diundur pemenuhannya tapi tetap penting untuk dipenuhi suatu saat nanti, jadi biar gak lupa harus ditulis. Sedangkan ktegori no.1 adalah fokus utama saat ini dan prlu sesegera mungkin dipenuhi.

Stelah jelas isi ktegori no.1 dan 2, skrang kita sudah bisa menjadikannya pedoman dalam proses keuangan kita. Yakni utamakan uang utk membiayai no.1. jika sudah terpenuhi no.1 maka kita tabung uang utk no.2.

Lalu bagaimana dgn kategori no.3 dan 4?

Utk no.3 ykni tidak penting tp mendesak itu kita penuhi hanya jika kita yakin tidak akan bertemu lagi peluang yg sama pdahal suatu saat hal itu menjadi penting. Misal ada yg jual pulpen murah diatas kereta pdahal kita sudah punya pulpen di tas, jd utk saat ini beli pulpen gak penting buat kita. Nah karena pulpen semurah itu mungkin hanya sekali ini kita temui maka hal ini menjadi sesuatu yg mendesak. meski belum penting beli saja karena toh suatu saat kita butuh pulpen. Beda kasusnya jika pulpen murah itu rupanya masih banyak dijual di tempat lain. Saya pernah mengalami kasus seperti ini yg menimbulkan penyesalan. Jd pernah ada org mau jual motor vega-R karena terdesak biaya. Kondisi motor lumayan baru dan ditawarkan Cuma skitar 4 juta. Karena wktu itu blum butuh motor maka saya abaikan saja. Eh! Stelah udah laku terjual saya baru merasa punya motor itu penting. Hehe terlambat..

Utk prioritas terakhir yakni kategori no.4 tidak usah kita penuhi, kecuali lagi butuh refreshing kayak liburan dsb. Begitu.

Nah! Ini yang bisa kita bahas seputar manajemen keuangan. Sebagai pencerahan kita perlu sadari bahwa status “punya uang” adalah sementara. Tugas kita adalah mempertahankan status itu, tentunya dengan mengelola status tersebut dgn baik. Berumah tangga, punya keluarga yang sehat, menikmati masa pensiun, semua itu hakikatnya akan menjadi tujuan hidup. Dan itu fitrah. Maka alangkah baiknya tujuan keuangan pun disesuaikan dengan tujuan hidup tersebut.

< memen.wordpress.com>

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s