Tolong Kasihani Kami..

sayangi-di-bumi-copy

Seandainya penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) bisa bicara mungkin yang terucap adalah kalimat judul tulisan ini..

Sayangnya, bersuara pun penyu-penyu itu tidak mampu. Kita tidak tahu apa yang dirasakannya saat pisau menyayat leher dan perutnya. Demikian dilangsir koran Kompas sebagaimana berikut (tulisan telah saya edit)

Di Jalan Sida Karya, kawasan Sesetan Denpasar, lebih dari 20 ekor penyu hijau tergeletak di halaman, tidak bisa bergerak karena kaki depannya terikat. Hanya kepalanya bergerak atau matanya melebar dan menyipit. Karapas yang tadinya selalu terkena air laut nampak kering. Kadang penyu-penyu itu dibiarkan berhari-hari terlunta menanti datangnya ajal.

Sore itu, salah satu di antaranya sudah diletakkan terbalik di atas alas penjagalan. Ada lengkingan lirih yang nyaris tidak terdengar saat ujung pisau menekan lehernya. Kaki belakang penyu yang tidak diikat meronta-ronta dan mata sayunya berkedip-kedip sambil sesekali melotot ketika lehernya mulai diiris. Sreet.., Darah segar menetes ke ember penampungan. makin lama darah semakin deras mengucur karena luka irisan semakin menganga. Darah perlahan berhenti mengalir saat leher nyaris putus.

Di Tanjung Benoa, Bali -tempat penjagalan penyu lainnya di Pulau Bali- penyu dijagal lebih sadis. Penyu dalam keadaan hidup ketika penjagal mengiris sambungan lunak karapas bawah dan karapas atasnya. Tidak terdengar suara dari si penyu. Yang terdengar hanya bunyi sayatan pisau yang menggorok kulit lunaknya. Penyu sebesar hampir satu meter itu mencoba meronta-ronta walaupun itu tentu sia-sia. Kaki depannya telah diikat kencang jadi satu. Hanya kaki belakang dan kepalanya yang terus bergerak-gerak tak tentu. Kemudian dengan paksa, karapas bawahnya dibetot sampai lepas dari tubuhnya. “krek” nampak isi bagian dalam yang tercabik berlumur lendir dan darah. Siksaan belum berakhir sampai sini. Saat daging dan isi perutnya diambil pun nampak kepala, kaki dan ekornya masih meronta-ronta kesakitan, sesekali kepalanya diam dan sesekali kepalanya bergetar. Isi perutnya terus dicacah meski belum mati, hingga akhirnya ia betul-betul mati.

Itu adalah sebuah potret kejadian nyata. Sebuah pemandangan memilukan tentang hilangnya rasa kasih kepada sesama mahluk. Padahal mahluk seperti penyu2 itu juga bisa merasakan sakit seperti sakit yg kita rasakan. Bayangkan kulit anda teriris silet atau pisau? Kira2 tiga kali itu yang dirasakan si penyu.

Dari sini saya ingin mengajak kita semua; “marilah kita kasihi semua mahluk Alloh yang ada dibumi ini”, jangan pernah menganiaya hewan. Jangan dibakar, jangan dimain-mainkan, bila menyembelih ternak atau unggas, gunakan pisau yg tajam dan lakukan dengan cepat. Demikian himbauan ini.

Trus, jika hewan saja kita harus punya rasa kasihan, maka bagaimana pula kepada sesama manusia? Tentu lebih besar lagi rasa kasih kita. So! Jangan lagi ada per-ploncoan, penganiayaan, intimidasi, dsb.

<memen.wordpress.com>

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s