Menunggu Ternyata Menyakitkan?

memenwordpresscom-12
Ini bukan tentang romantisme cinta, bukan bicara soal; menanti kepastian cinta itu ternyata menyakitkan. Bukan, Tapi judul tulisan ini berkisar kehidupan umum disekitar kita, bahwa menunggu adalah pekerjaan semua manusia –yg meski penuh kesabaran- tapi didalamnya manusia bisa meningkatkan kualitas dan derajatnya.
Ada seorang pedagang kaki lima -seorang tua- yang berjualan kaos di emperan toko dekat pasar kampung saya Setiap saya kepasar dan melewati org tua tsb saya selalu melihat betapa merana raut muka yang ditampakkan beliau. Entah karena dagangannya kurang laku atau memikirkan kesulitan hidupnya, orang tua itu selalu murung dan spt kehilangan gairah hidup. Sesekali saya perhatikan lama, orang tua itu memang menunggu dan menunggu tanpa ada pembeli yg membeli daganganya. Entah krna ia berjualan disamping toko barang sejenis -yg pilihan dagangannya lebih menarik- atau krna faktor lain dagangan ortu tersebut selalu sepi pembeli. Memprihatinkan bagi saya. sampai akhirnya saya putuskan untuk beli saja dagangan nya. Itung itung memang bakal kepake satu saat nanti.
Memikirkan orang tua tsb, saya jadi teringat para pengemis dan tukang tambal ban. Mereka melakukan hal yang sama setiap hari, yakni menunggu ada yg menghampiri. Kita semua sebenarnya juga begitu –baik pedagang, petani, penulis, pengamat, nelayan, pencari kerja- semua melakukan hal yang sama, yakni “menunggu”.
Apa yang bisa manusia lakukan selain menunggu? Mungkin benar ada kursus atau seminar, ada kesibukan menggelar barang dagangan, ada aktifitas launching produk ke pasar, ada usaha mengirimkan tulisan ke surat kabar. Bercocok tanam, pergi melaut, atau mengirim lamaran ke perusahaan2. dsb. Tapi apa setelah itu? Ya menunggu.. menunggu barang dagangan di usik pembeli. Menunggu produk diapresiasi pasar. Menunggu tulisan dimuat di Koran. Menunggu jagung dan padi tumbuh besar. Menunggu umpan dimakan ikan. Menunggu panggilan kerja. Dsb.
Kita semua tak lebih dari mahluk penunggu. Tidak ada daya kita selain menunggu. So! Terkait dengan cara menunggu itulah sebenarnya terletak martabat diri kita. (Sebelum akhirnya yg ditunggu diberikan juga kepada kita).
Si orang tua -alias Pedagang kaki lima- tadi akan jatuh mutunya jika dia menunggu sembari mencaci maki nasibnya. Pedagang toko juga akan turun derajatnya jika sambil menunggu dagangan mereka rendahkan si pedagang kaki lima. Begitupun para pencari kerja jika sambil menunggu panggilan mereka main pintu belakang. Atau penambal ban jika sambil menunggu mereka menaburkan paku di jalanan.
Didalam proses menunggu itulah terjadi dialog paling intensif antara manusia dengan pikirannya. Dan apa yang paling sering dibicarakan pikiran saat menunggu tersebut? Apakah cacian, apakah menyesali nasib, apakah ucapan syukur, apakah doa, apakah optimisme? Apapun itu, itulah cerminan kualitas diri setiap orang yang sesungguhnya. Apakah dia termasuk penggerutu, pencela, pendengki, pandai bersyukur, penyabar, atau seorang yang selalu berdzikir kpd Tuhannya.
menunggu merupakan pekerjaan utama manusia –yg meski sakit dan penuh kesabaran- tapi didalamnya ada ladang untuk meningkatkan kualitas diri, dan untuk mengangkat kemuliaan disisi Tuhan.
(ditulis saat sedang menunggu berbuka puasa)

<memen.wordpress.com>

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s